![]() |
| Ilustrasi Ondel-ondel : Dok.Pribadi |
Indonesia negara bernusantara yang kaya akan budaya, suku, dan ras. Dengan banyaknya budaya, suku, dan ras yang berbeda-beda di Indonesia, kewajiban kita sebagai masyarakat untuk mempelajari dan mengetahui hal tersebut.
Di sudut kota Jakarta Timur
terdapat pengrajin ondel-ondel betawi, Jaja adalah namanya. Sosok laki-laki
pekerja keras yang tiada hentinya untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Meski
kini dikejar oleh perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat, hal
tersebut tidak mematahkan semangat pada dirinya.
Suara sisikan potongan bambu kala
jaja sedang merangkai kerangka badan ondel-ondel. Satu persatu disambungkan
dengan teliti agar tak ada yang tertinggal. Dengan fokus yang tinggi dan
cekatan jaja memasangkan serabut sapu ijuk di bagian atas agar terbentuknya
kerangka kepala ondel-ondel. Setelah terbentuknya kerangka badan pada
ondel-ondel, tidak lupa Jaja memberikan aksesoris pada ondel-ondel. Aksesoris
ondel-ondel berupa baju, anting-anting untuk ondel-ondel perempuan,
selendang/kain, dan kembang kelape yang menjadi ikon khusus pada ondel-ondel.
Tidak hanya sebatas ondel-ondel
raksasa yang dibuat oleh jaja. Dia juga membuat dan menjualkan suvenir
gantungan ondel-ondel yang terbuat dari kain fanel, topeng ondel-ondel, dan
yang paling menarik jaja membuat miniatur ondel-ondel dengan bahan botol bekas
yang tidak terpakai.
Jaja menggunakan botol bekas
sebagai rasa kemanusian kepada alam. Mendaur ulang sesuatu yang tidak terpakai
dapat ia kelola menjadi sebuah karya yang menghasilkan uang. Tidak hanya
bermanfaat bagi dirinya, tetapi juga bermanfaat kepada alam.
Dalam pekerjaan ini, ia memakan
waktu yang cukup lama. Produk yang ia jual harus ia rakit dengan tangan dan
tidak menggunakan mesin. Namun hal tersebut tidak ia sesali, dia sangat bangga
membuat kerajinan tersebut dibandingkan dengan mengamen menggunakan
ondel-ondel.
Rasa dilema dirasakan oleh Jaja
sebagai pengrajin ondel-ondel. Ia bercerita bahwa dahulu kegunaan ondel-ondel hanya
digunakan saat acara adat yang sakral. Tidak seperti saat ini yang sedikit
beralih dijadikan sebagai alat untuk mengamen dengan diiringi musik dari speaker. Dia berpikir akan lebih baik
jika mengamen dengan ondel-ondel diiringi oleh alat musik seperti gong,
kong’hayang, dan tehyan.
Jaja sangat berharap kepada
masyarakat maupun seniman agar terus menjaga kebudayaan yang ada di Indonesia. Suatu
budaya harus digunakan sebagai mana mestinya, jangan salah u digunakan dan
menyimpang aturan budaya tersebut. Nilai suatu budaya akan mahal jika kita
sebagai masyarakat mau melestarikannya. Jika suatu bangsa kehilangan budayanya
maka hilanglah identitas negara tersebut.







0 komentar:
Posting Komentar