![]() |
| Sumber Foto : https://www.IStockPhoto.com |
Perayaan Imlek atau tahun baru China, pada 22 Januari, sering kali diadakan dengan
beragam tradisi unik, berbagai hidangan khas disajikan seperti kue keranjang yang menjadi ikonik perayaan Imlek.
Hidangan kue Keranjang atau ‘Nian Gao’ terbuat dari tepung
beras ketan dengan tekstur lengket, yang disajikan pada malam perayaan Tahun Baru
Imlek tiba. Selain sebagai hidangan perayaan, makanan ini memiliki beberapa makna
tersirat dibaliknya.
Melansir
beberapa sumber, Kue Keranjang melambangkan keharmonisan yang akan membawa
keuntungan ditahun yang akan datang. Adapun penyebutan “Tahun yang lebih tinggi”,
mengartikan kehidupan yang lebih baik dan keberuntungan di tahun yang akan
datang.
Bentuk
keranjang yang melingkar menandakan hubungan keluarga yang erat, harmonis dan
tak mudah dipisahkan.
Untuk orang
tua, Kue Keranjang mengungkapkan keinginan untuk panjang umur . Bagi kaum muda, itu
mengungkapkan keinginan untuk promosi dan penghasilan tinggi . Untuk anak-anak, itu mengungkapkan keinginan untuk tumbuh dewasa .
Warna kuning dan putih pada kue melambangkan Kekayaan. Dalam
budaya Tionghoa, kuning melambangkan emas dan putih melambangkan perak.
Tak
hanya itu, kue keranjang khas Imlek memiliki cerita mistis yang mengatakan kue
keranjang diyakini sebagai persembahan licik pada Dewa Dapur, yang bersemayam
di setiap sudut rumah.
Sumber
lain menceritakan kisah asal usul kue keranjang, berasal setelah kematian Wu
Zixu, seorang jenderal dan politikus kerajaan Wu pada musim semi dan gugur, 771—476
SM. Raja Yue, Goujian, menyerang ibu Kota Wu. Hal ini menyebabkan banyak
kematian tentara dan warga Wu meninggal akibat kelaparan.
Dari
makna dan kisah tersebutlah yang membuat Kue Keranjang wajib ada saat perayaan
Imlek, untuk mendapatkan keberuntungan dan mencegah hal-hal buruk.












